Analisis Reaksi Pasar Modal Terhadap Peristiwa Stock Split Yang Ditunjukkan Oleh Abnormal Return Dan Trading Volume Activity (AK-47)

BAB I 
PENDAHULUAN 
A.                 Latar Belakang Masalah
Dunia bisnis sekarang, terutama perdagangan saham yang terdapat di pasar modal, banyak sekali aktivitas perdagangan yang dilakukan oleh para investor untuk memperoleh keuntungan (return). Ada berbagai macam faktor yang dapat mempengaruhi aktivitas perdagangan di pasar modal, diantaranya adalah informasi yang masuk ke dalam pasar modal tersebut (Puspitaningsih, 2006).
Informasi memegang peranan penting terhadap transaksi perdagangan di pasar modal. Para pelaku di pasar modal sangat membutuhkan setiap informasi yang dapat mempengaruhi naik turunnya harga surat berharga di pasar modal. Informasi berkaitan dengan pengambilan keputusan yang dilakukan oleh para investor untuk memilih portofolio investasi yang efisien.
Suatu informasi memiliki makna bila informasi tersebut menyebabkan investor melakukan transaksi di pasar modal yang akan tercermin dalam indikator atau karakteristik pasar modal, seperti volume perdagangan dan harga saham. Di pasar modal banyak sekali informasi yang dapat dimanfaatkan, salah satu informasi yang tersedia yaitu pengumuman stock split atau pemecahan saham. Stock split adalah memecah selembar saham menjadi n lembar saham, harga perlembar saham baru setelah stock split adalah 1/n dari harga sebelumnya (Jogiyanto 2003).
Tingginya harga saham akan mengurangi likuiditas saham karena investor kurang mampu membeli saham tersebut. Salah satu cara yang dilakukan emiten untuk mempertahankan agar sahamnya tetap berada dalam rentang perdagangan yang liquid sehingga daya beli investor meningkat terutama untuk investor kecil adalah melakukan stock split. Peristiwa stock split merupakan satu kejadian ekonomi. Dampak dari stock split adalah menigkatnya nilai likuiditas saham karena jumlah lembar sahamnya memiliki harga yang rendah, sehingga akan meningkatkan permintaan akan saham tersebut (Suntoro dan Subekti 2003).
Menurut Kurniawati (2003) apabila harga suatu saham terlalu tinggi, maka kemungkinan saham tersebut dapat dibeli oleh masyarakat semakin kecil. Manajemen perusahaan yakin bahwa apabila kepemilikan saham semakin luas, maka hubungan dengan masyarakat lebih baik, sehingga adanya stock split dapat mengurangi nilai pasar saham dan memiliki kemampuan menarik mayoritas investor potensi.
Menurut Suntoro dan Subekti (2003) tingginya harga saham akan mengurangi likuiditas saham karena investor kurang mampu membeli saham tersebut. Salah satu cara yang dilakukan emiten untuk mempertahankan agar sahamnya tetap berada dalam rentang perdagangan yang likuid sehingga daya beli investor meningkat terutama untuk investor kecil adalah melakukan stock split. Peristiwa stock split merupakan satu kejadian ekonomi yang popular dipelajari dalam transaksi saham di pasar modal. Dampak dari stock split adalah akan meningkatkan likuiditas saham karena jumlah lembar sahamnya memiliki harga yang rendah, sehingga akan meningkatkan permintaan akan saham tersebut.
Menurut Scott, Martin, Petty dan Keown (1999) dalam Harsono (2004) ada beberapa alasan mengapa manajer perusahaan melakukan stock split antara lain 1) agar saham tidak terlalu mahal sehingga dapat meningkatkan jumlah pemegang saham dan meningkatkan likuiditas perdagangan saham, 2) untuk mengembalikan harga dan ukuran perdagangan rata-rata saham kepada kisaran yang telah ditargetkan, 3) untuk membawa informasi mengenai kesempatan berinvestasi yang berupa penignkatan laba dan dividen kas.
Tindakan stock split mengakibatkan jumlah saham yang beredar bertambah sehingga para investor yang berhubungan dengan aktivitas tersebut dapat melakaukan penyusunan kembali portofolio, investasinya. Penyusunan kembali portofolio tidak terlepas dari pertimbangan risiko saham yang membentuk portofolio sehingga diharapkan akan memeperoleh tingkat risiko yang lebih kecil. Investor rasional akan memilih investasi yang mempunyai risiko yang terkecil bila dihadapkan pada dua pilihan investasi yang memberikan tingkat return yang sama. Oleh karena itu, tindakan stock split yang dilakukan oleh emiten perlu dipertimbangkan oleh investor dan calon investor dalam mengambil putusan untuk membeli atau melepas saham yang dimiliki berdasarkan analisis mereka mengenai informasi apa yang terkandung di dalam stock split (Harsono, 2004).
Ada dua teori utama yang mendominasi litelatur pemecahan saham adalah signalling theory dan trading range theory. Signalling theory menyatakan bahwa pemecahan saham akan memberikan informasi kepada investor tentang prospek peningkatan return masa depan yang substansial, sedangkan trading range theory menyatakan bahwa manajemen melakukan stock split didorong oleh prilaku praktisi pasar yang konsisten dengan anggapan bahwa dengan melakukan stock split dapat menjaga harga saham tidak terlalu mahal.
Saham bisa dikatakan liquid jika saham itu mudah diperjualbelikan, mudah dicairkan sehingga banyak peminatnya, dan likuiditas saham itu bisa diukur dengan frekuensi reaksi perdagangan saham di pasar modal (Adikusuma, 1997). Likuiditas saham bisa diartikan mudahnya saham diperjualbelikan. Semakin likuid saham suatu perusahaan, maka perusahaan akan lebih mudah mendapatkan dana, karena investor tertarik untuk membeli saham perusahaan. Likuiditas saham suatu perusahaan ditunjukkan oleh Trading Volume Activity.
Aktivitas stock split umumnya dilakukan pada saat harga saham dinilai terlalu tinggi sehingga akan mengurangi kemampuan investor untuk membelinya, stock split hanya upaya untuk menarik investor untuk membeli saham yang dipecah tersebut karena harga setelah dipecah menjadi lebih terjangkau. Keputusan stock split merupakan kesempatan para pemegang saham yang dicapai dalam rapat umum pemegang saham (RUPS). Emiten harus menyampaikan kepada BAPEPAM dan diumumkan segera kepada masyarakat karena stock split dapat mempengaruhi nilai efek atau keputusan investasi oleh investor (Suntoro dan Subekti 2003).
Menurut teori keuangan tradisional, stock split hanyalah salah satu bentuk corporate action yang sifatnya kosmetik dan administratif. Berbeda dengan corporate action lainnya, tindakan tersebut tidak terkait sama sekali dengan kinerja dan cash flow, sehingga praktis tidak akan merubah kekayaan perusahaan. Ketika melakukan stock split, perusahaan sama saja dengan menerbitkan saham baru dan membagi-bagikannya kepada pemegang saham lama secara proporsional. Sederhananya, kertas yang ada di tangan si pemegang saham hanya akan bertambah banyak, tetapi nilai keseluruhannya tetap sama (Nuryadin, 2004).
Meskipun secara teoritis pemecahan saham tidak memiliki nilai ekonomis, tetapi banyaknya peristiwa pemecahan saham di pasar modal memberikan indikasi bahwa pemecahan saham merupakan alat yang penting dalam praktik pasar modal. Pemecahan saham telah menjadi salah satu alat yang digunakan oleh manajemen untuk membentuk harga pasar saham perusahaan, maka dari itu, tidaklah mengherankan kalau banyak teori dan riset empiris yang dikembangkan untuk membahas tentang praktek pemecahan saham ke pasar modal (Marwata, 2002).
Penelitian yang dilakukan Hendiyanto (2006) membahas reaksi pasar modal pada saat terjadi stock split pada tahun 2002 sampai 2004 dengan menggunakan variabel average abnormal return dan cummulative average abnormal return, menunjukkan bahwa informasi stock split merupakan salah satu alat yang digunakan para investor dalam memilih portofolio investasi.
Puspitaningsih (2006) melakukan penelitian terhadap reaksi pasar dengan tentang menggunakan uji one sample t test menunjukkan bahwa terdapat reaksi pasar yang signifikan atas peristiwa stock split terhadap abnormal return saham dan Trading Volume Activity (TVA) perusahaan. Hasil analisis dengan menggunakan paired sample t test gagal membuktikan terdapat perbedaan besarnya abnormal return saham perusahaan periode sebelum dan sesudah peristiwa stock split. Namun dalam penelitian tersebut mampu membuktikan terdapat perbedaan besarnya TVA perusahaan periode sebelum dan sesudah peristiwa stock split.
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya yaitu pada perioda penelitian. Penelitian terdahulu menggunakan perioda jendela selama 11 hari (5 hari sebelum dan 5 hari sesudah tanggal pengumuman), sedangkan penelitian ini menggunakan perioda jendela selama 21 hari (10 hari sebelum pengumuman, 1 hari peristiwa, dan 10 hari setelah pengumuman) dengan menambah perioda jendela yang lebih panjang, maka informasi yang disampaikan  oleh split akan  mudah diserap oleh pasar (Indriastuti, 1998).
Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini
Dipublikasi di Akuntansi | Meninggalkan komentar

Analisis Pengaruh Promosi Terhadap Peningkatan Penjualan Pada Pt.Martina Berto (PM-23)

BAB I 
PENDAHULUAN

1.1              Latar Belakang
Semakin ketatnya persaingan didalam dunia usaha pada saat sekarang ini, membuat para pelaku usaha baik itu perseorangan atau persekutuan, ataupun dalam bentuk perusahaan baik itu perusahaan yang berasal dalam atau luar negeri haruslah memiliki faktor yang dapat dijadikan oleh perusahaan sebagai senjata dalam usahanya untuk memenangkan persaingan dengan para pesaingnya didunia bisnis. Kondisi seperti itulah yang pada akhirnya menyebabkan para pelaku usaha tersebut makin gencar berusaha untuk mencari solusi maupun program bisnis yang dapat meningkatkan daya saing perusahaan didalam bisnisnya.
Namun demikian, meskipun perusahaan telah berusaha bersaing dan memberikan yang terbaik untuk konsumen belum tentu dapat menjamin akan berhasilnya usaha pencapaian tujuan perusahaan, karena tiap konsumen memiliki selera dan keinginan yang berbeda-beda. Maka dari itu setiap perusahaan memiliki strategi pemasaran yang berbeda-beda, tentunya strategi pemasaran yang diterapkanlah strategi terbaik disetiap perusahaan. Dengan melakukan hal tersebut perusahaan dapat menarik minat, ketertarikan, dan menggugah masyarakat untuk membeli produk barang atau jasa yang dihasilkan perusahaan tersebut.
Pemasaran lebih berhubungan dengan pelanggan dibandingkan dengan fungsi bisnis lain. Memahami, menciptakan, mengkomunikasikan, dan memberikan nilai dan kepuasan kepada konsumen  adalah inti pemikiran dan praktek pemasaran. Definisi dari pemasaran sendiri adalah proses pemberian kepuasan kepada konsumen untuk mendapatkan laba. Dua sasaran pemasaran yang utama adalah menarik konsumen baru dengan menjanjikan nilai yang unggul dan mempertahankan konsumen dengan cara memberikan kepuasan. Pemasaran yang masuk akal menjadi penentu keberhasilan setiap perusahaan besar atau kecil, berorientasi yang laba atau nirlaba, domestik ataupun global.
Pemasaran berlangsung selama adanya produk yang dihasilkan perusahaan, berusaha mendapatkan konsumen baru dan mempertahankan konsumen yang telah ada dengna meningkatkan daya tarik dan kinerja produk, belajar dari hasil penjualan poduk dan mengelola kinerja dengan baik. Jika perusahan dapat memahami konsumen dengan baik, menciptakan produk yang memberikan nilai unggul, menetapkan harga, mendistribusikan dan mempromosikan dengan efektif, produk-produk tersebut akan terjual dengan mudah.
Adapun dalam pemasaran dikenal istilah Bauran Pemasaran (Marketing Mix) dengan 4P’s (four P’s) yang terdiri dari product (produk), Price (harga), Place (tempat/distribusi) dan Promotion (promosi).
Empat variabel tersebut saling berhubungan dan membentuk sebuah paket utuh yang akan menentukan derajat kesuksesan program pemasaran yang dijalankan, Adapun penjelasan dari variabel tersebut adalah :

1.                  Produk
Sebuah produk dirancang untuk memuaskan kebutuhan konsumen.Strategi produk meliputi sejumlah keputusan tentang kegunaan, kualitas, fitur, merek dagang, model, kemasan, garansi, desain, dan pilihan (macam produk). Keputusan untuk melakukan perubahan pada karakteristik produk mutlak diperlukan seiring dengan perputaran produk tersebut.

2.                  Harga
Selain harga yang ditetapkan untuk sebuah produk yang dijual kepada konsumen, penentuan harga mencakup beberapa kebijakan manajemen mengenai diskon, harga, kredit, periode pembayaran, pembayaran pemindhan dan sebagainya.

3.                  Lokasi
Menempatkan produk berarti menyediakan produk pada tempat (pasar) yang tepat dan di waktu yang tepat pula. Strategi distribusi produk meliputi sejumlah keputusan seperti lokasi dan daerah toko, tingkat inventaris produk, lokasi ruang pajang produk, serta jenis pengiriman produk tersebut.

4.                  Promosi
Promosi bermaksud untuk dan membujuk target konsumen dalam hal nilai dari produk yang dijual. Penentuan media yang digunakan merupakan bagian penting dari sebuah promosi produk.

Bauran pemasaran merupakan salah satiu konsep utama dalam pemasaran modern. Definisi bauran pemasaran adalah sebagai seperangkat alat pemasaran taktis yang dapat dikendalikan, yang dipadukan oleh perusahaan untuk menghasilkan tanggapan yang diinginkan dalam pasar sasaran. Bauran pemasaran terdiri dari segala sesuatu yang dapat dilakukan perusahaan untuk mempengaruhi permintaan produknya.
Program pemasaran efektif mencampurkan semua elemen bauran pemasaran ke dalam program yang terkoordinasi dan dirancang untuk mencapai sasaran pemasaran perusahaan dengan memberikan nilai kepada konsumen. Bauran pemasaran membentuk perangkat alat taktis perusahaan untuk menetapkan posisi yang kuat dalam target pasar.
Selain itu perusahaan harus mempunyai perencanaan yang strategis yang dapat digambarkan sebagai sebuah metode untuk mencapai sebuah tujuan dengan mengantisipasi hal yang akan terjadi dan menentukan tindakan yang perlu dilakukan. Kebutuhan akan perencanaan didalam bisnis adalah mengetahui posisi perusahaan, dan posisi yang akan datang, serta bagaimana proses untuk mencapai posisi yang akan datang tersebut. Sebuah perencanaan pemasaran adalah sebuah dokumen kerja yang dimaksudkan untuk mengukur kinerja perusahaan.
Setiap bagian dari perusahaan harus merencanakan tujuan, seluruh rencana atau tujuan perusahaan harus konsisten dengan strategi bisnis perusahaan secara keseluruhan.Sebuah perencanaan pemasaran akan dapat membantu perusahaan dalam dalam menentukan keputusan sejumlah hal yang berhubungan dengan pemilihan media, promosi, pembuatan iklan produk, ataupun anggaran perusahaan.
Promosi merupakan salah satu cakupan bauran pemasaran yang penting dalam memasarkan barang atau jasa yang dihasilkan perusahaan dan juga sebagai suatu cara memberikan informasi kepada masyarakat tentang barang atau jasa yang dihasilkan sebuah perusahaan. Promosi juga berarti aktivitas yang mengkomunikasikan keunggulan produk dan membujuk sasaran untuk membelinya. Oleh karena itu, perusahaan selalu membangun komunikasi sebaik mungkin kepada konsumennya dan calon konsumennya melalui promosi.  Penerapan kegiatan promosi yang dilakukan oleh perusahaan meliputi Advertising (periklanan), Sales Promotion (promosi penjualan), Personal Selling (penjualan personal), Publicity  (publisitas). Kegiatan promosi ini biasa dikenal dengan istilah Bauran Promosi (Marketing Mix).
Promosi juga menentukan keberhasilan suatu program pemasaran. Betapapun berkualitasnya suatu produk, bila konsumen belum pernah mendengarnya dan tidak yakin bahwa produk itu akan berguna bagi mereka tidak akan pernah membelinya. Pentingnya promosi bisa digambarkan sebagai salah satu kekuatan perusahaan.
Promosi lebih mempengaruhi perilaku dibandingkan dengan sikap. Pembelian segera adalah tujuan dari promosi. Karena itu lebih baik merencanakan suatu promosi untuk target pelanggan sehubungan dengan prilaku umum.Sasaran dari suatu promosi tergantung pada perilaku umum target konsumen. Sekali para pemasar mengerti dinamika yang terjadi terhadap kategori produk dan telah menentukan konsumen dan perilaku konsumen, maka perusahaan dapat memilih alat promosi guna mencapai tujuan perusahaan. Alat promosi yang digunakan tiap perusahaan juga dapat berbeda tergantung dari kebutuhan dan tujuan perusahaan masing – masing. Alat-alat promosi penjualan adalah kupon, potongan harga, premi, program pemasarn loyalitas, kontes, undian, sample, dan promosi pembelian.
Pada hakikatnya promosi adalah suatu bentuk komunikasi pemasaran. Yang dimaksud komunikasi pemasaran adalah aktivitas pemasaran yang berusaha menyebarkan informasi, mempengaruhi/membujuk dan/atau mengingatkan pasar sasaran atas perusahaan dan produknya agar bersedia menerima, membeli, dan loyal pada produk yang ditawarkan perusahaan yang bersangkutan. Komunikasi pemasaran juga bertujuan menunjukkan keberadaan suatu produk dipasaran.
Promosi berhubungan erat dengan komunikasi. Ketika perusahaan mengembangkan produk baru, mengubah yang lama atau bahkan mencoba meningkatkan penjualan atas barang dan jasa yang ada, perusahaan harus menginformasikan pesan penjualannya kepada calon pelanggan. Para pemasar mengkomunikasikan informasi tentang perusahaan dan produk-produknya melalui program promosinya.
Adapun tujuan utama dari promosi adalah menginformasikan, mempengaruhi, dan membujuk serta  mengingatkan pelanggan tentang perusahaan dan bauran pemasarannya. Secara rinci tujuan promosi dapat dijabarkan sebagai berikut:
1.                  Menginformasikan, dapat berupa :
·                    Menginformasikan pasar mengenai keberadaan suatu produk baru.
·                    Memperkenalkan cara pemakaian yang baru dari suatu produk.
·                    Menyampaikan perubahan harga kepada pasar.
·                    Menjelaskan cara kerja suatu produk.
·                    Menginformasikan jasa-jasa yang disediakan oleh perusahaan.
·                    Meluruskan kesan yang keliru.
2.                  Membujuk pelanggan sasaran untuk :
·                    Membentuk pilihan merk.
·                    Mengalihkan pilihan ke merk tertentu.
·                    Mengubah persepsi pelanggan terhadap atribut produk.
·                    Mendorong pembeli untuk belanja saat itu juga.

3.                  Mengingatkan dapat terdiri atas :
·                    Mengingatkan pembeli bahwa produk yang bersangkutan dibutuhkan
·                    Mengingatkan pembeli akan tempat-tempat yang menjual produk ke perusahaan.
·                    Membuat pembeli ingat meskipun tidak ada iklan.
Jika ditinjau dari sudut pandang ekonomi, maka tujuan dari promosi ini adalah menggeser kurva permintaan akan produk perusahaan ke kanan dan membuat permintaan menjadi inelastis (dalam kasus harga naik) dan elastis (dalam kasus harga turun). Meskipun secara umum bentuk-bentuk promosi memiliki fungsi yang sama, tetapi bentuk-bentuk tersebut dapat dibedakan berdasarkan tugas-tugas khususnya. Beberapa tugas khusus itu sering disebut dengan Bauran Promosi (Promotion mix, Promotion blend, Communication mix) adalah :
1.                              Personal Selling
2.                              Mass Selling
3.                              Sales promotion
4.                              Public Relations
5.                              Direct Marketing
Pelaksanan kegiatan promosi dalam suatu perusahaan merupakan keharusan untuk mendukung tercapainya tujuan perusahaan. Namun promosi yang digunakan tentu harus efektif dan tepat sehingga dapat meningkatkan penjualan perusahaan.
Atas dasar alasan-alasan tersebut, Penulis melakukan analisis “Analisis Pengaruh Promosi Terhadap Peningkatan Penjualan  Pada PT MARTINA BERTO”.

Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini
Dipublikasi di Pemasaran | Meninggalkan komentar

Peningkatan Keterampilan Bercerita Menggunakan Media Boneka Pada Siswa Kelas Vii-G Smp Negeri 4 Pemalang Tahun Ajaran 2006/2007 (PS-3)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Bahasa merupakan sarana yang sangat penting dalam kehidupan kita karena bahasa merupakan alat untuk menyatakan pikiran dan perasaan kepada orang lain, untuk mengembangkan ekspresi, dan juga untuk mengembangkan kemampuan intelektual seseorang.

 

Tarigan (1986:2) mengemukakan bahwa pada prinsipnya, tujuan pembelajaran bahasa adalah agar siswa terampil berbahasa, yaitu terampil menyimak, terampil berbicara, terampil membaca, dan terampil menulis.
Berkaitan dengan tujuan pembelajaran keterampilan berbahasa, perlu diterapkan suatu media pembelajaran yang efektif dan dapat menunjang kegiatan pembelajaran. Media pembelajaran yang bermacam-macam menyebabkan guru harus selektif dalam memilih media pembelajaran yang akan digunakan. Salah satu faktor yang mempengaruhi pemilihan media pembelajaran adalah materi pembelajaran. Hal tersebut dikarenakan setiap materi mempunyai karakteristik tersendiri yang turut menentukan dalam pemilihan media. Begitu pula dalam pembelajaran berbicara khususnya bercerita, seorang guru harus memilih dan menggunakan media yang sesuai sebagai penunjang kegiatan pembelajaran agar dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan.

Keterampilan berbicara (speaking skill) merupakan salah satu aspek dari keterampilan berbahasa selain keterampilan menyimak (listening skill), keterampilan membaca (reading skill), dan kerampilan menulis (writing skill). Keempat aspek tersebut saling berhubungan satu dengan yang lainnya.
Berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata- kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan (Tarigan 1981:15).
Keterampilan berbicara merupakan keterampilan kebahasaan yang sangat penting. Syafi’ie (1993:33) mengemukakan dengan keterampilan berbicaralah pertama-tama kita memenuhi kebutuhan berkomunikasi dengan masyarakat tempat kita berada.
Berdasarkan hal tersebut peneliti menemukan kelemahan tingkat penguasaan keterampilan berbicara. Hal ini terlihat pada keterampilan berbicara siswa yang sering memilih diam ketika diberi kesempatan untuk bertanya, tidak bersedia mengemukakan pendapat (usul, saran atau tanggapan) secara lisan atau untuk menjawab pertanyaan. Kebanyakan dari mereka lebih memilih diam dari pada berbicara karena berbagai alasan, misalnya takut salah, malu ditertawakan oleh teman atau memang tidak ada keberanian untuk mengungkapkan walau sebenarnya siswa mengetahui. Dalam hal ini perlu di upayakan suatu bentuk pembelajaran yang variatif, menarik, menyenangkan, dan dapat merangsang siswa untuk berlatih berbicara.

Berdasarkan kenyataan tersebut, terlihat perkembangan kemampuan berbicara di kalangan siswa sangat memprihatinkan. Hal ini juga dialami oleh sebagian besar siswa kelas VII-G SMP Negeri 4 Pemalang yang menjadi obyek penelitian ini.
SMP Negeri 4 Pemalang adalah salah satu SMP unggulan di Kabupaten Pemalang, selain prestasinya juga karena letaknya yang strategis. SMP Negeri 4Pemalang mempunyai beberapa kelas yaitu kelas VII, VIII, dan IX. Masing-masing kelas VII terdiri atas tujuh kelas, yaitu kelas VII-A sampai VII-G, kelas VIII terdiri dari tujuh kelas, yaitu kelas VIII-A sampai VIII-G, dan kelas IX terdiri dari tujuh kelas juga, yaitu kelas IX-A sampai IX-G.
Dari hasil penelitian yang dilaksanakan peneliti di SMP Negeri 4 Pemalang, peneliti hanya mengambil satu kelas sebagai objek penelitian yaitu kelas VII-G, karena menurut guru pengampu mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia kelas VII, siswa-siswa di kelas VII khususnya kelas VII-G dari tahun ajaran yang lalu sampai tahun ajaran sekarang siswa-siswanya mendapatkan nilai terendah dibandingkan dengan kelas yang lain. Hal ini dilihat dari aspek berbicara khususnya kompetensi dasar bercerita.
Proses belajar mengajar aspek berbicara khususnya dalam kompetensi dasar bercerita kurang berhasil. Hal ini dapat diketahui oleh peneliti setelah melihat daftar nilai siswa, diketahui bahwa nilai tertinggi yaitu 70 diperoleh 3 siswa, nilai 68 diperoleh 5 siswa, nilai 65 diperoleh 20 siswa, nilai <65 diperoleh 14 siswa.
Berdasarkan hasil wawancara dengan siswa yang mendapat nilai tertinggi, mereka merasa senang dengan pembelajaran bercerita, walaupun mereka masihmerasa kesulitan mengeluarkan gagasan yang muncul ketika harus bercerita di depan. Sedangkan, hasil wawancara dengan siswa yang mendapat nilai terendah yaitu nilai
54, mereka merasa tidak senang dengan pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia terutama keterampilan berbicara. Hal ini disebabkan oleh metode dan media yang digunakan guru kurang bervariasi sehingga siswa merasa bosan.
Kemampuan siswa dala m aspek berbicara di kelas VII-G masih lemah dan belum sesuai dengan batas nilai ketuntasan belajar. Hal ini dapat dilihat dari jumlah siswa yang 42 anak, ada 24 siswa yang kurang memahami materi karena faktor dari dalam diri siswa sendiri, 5 siswa disebabkan karena gurunya yang kurang jelas menerangkan, 8 siswa merasa tidak ada yang perlu disalahkan dalam berhasil atau tidaknya proses pembelajaran, dan 5 siswa yang berpendapat bahwa berhasil atau tidak berhasilnya proses pembelajaran disebabkan oleh faktor diri sendiri dan gurunya. Data tersebut diperoleh setelah peneliti melakukan wawancara dengan siswa.
Oleh karena itu, minat berbicara siswa perlu dikembangkan. Salah satu bentuk keterampilan berbicara dalam kurikulum 2006 yang tertuang di SMP adalah kompetensi bercerita dengan alat peraga. Dalam kompetensi ini siswa dituntut untuk dapat bercerita menggunakan alat peraga. Siswa bisa menuangkan ide-ide mereka ke dalam cerita yang mereka buat dan mereka sajikan kepada siswa-siswa yang lain menggunakan alat peraga.
Bercerita merupakan salah satu keterampilan berbicara yang bertujuan untuk memberikan informasi kepada orang lain (Tarigan 1988:35). Dikatakan demikiankarena bercerita termasuk dalam situasi informatif yang ingin membuat pengertian- pengertian atau makna-makna yang menjadi jelas.
Dengan bercerita, seseorang dapat menyampaikan berbagai macam cerita, ungkapan berbagai perasaan sesuai dengan apa yang dialami, dirasakan, dilihat, dibaca dan ungkapan kemauan dan keinginan membagikan pengalaman yang diperoleh.
Dalam hal ini, peneliti menggunakan media boneka untuk menarik perhatian dan minat siswa. Media boneka juga berfungsi untuk membantu siswa memperoleh kemudahan ketika bercerita, karena dengan bantuan boneka sebagai alat peraga akan membangkitkan ide-ide siswa yang tertuang dalam sebuah cerita yang akan mereka ceritakan di depan kelas. Mereka juga tidak akan canggung lagi bercerita menggunakan media boneka karena mereka tidak bercerita langsung menghadapi siswa-siswa yang lain melainkan dengan media boneka mereka merasa menjadi tokoh dalam boneka tersebut. Dalam penelitian ini media boneka yang akan digunakan dalam pembelajaran bercerita yaitu suatu media yang akan dibuat oleh siswa sendiri pada mata pelajaran seni rupa. Jadi h al ini akan menambah semangat dari para siswa itu sendiri pada keterampilan bercerita yang akan peneliti lakukan.
Berdasarkan hasil wawancara dengan guru pengampu mata pelajaran bahasa Indonesia SMP Negeri 4 Pemalang, dalam keterampilan proses pembelajaran berbicara khususnya kompetensi bercerita, selama ini siswa cenderung: (1) siswa kurang berani bercerita di depan umum; (2) siswa merasa takut, malu-malu, dan kurang percaya diri bila ditunjuk untuk bercerita di depan kelas; (3) kata-kata yang digunakan siswa saat bercerita kurang menarik; (4) siswa tidak menguasai bahan cerita; (5) guru sering membatasi topik pembicaraan; (6) teknik-teknik yang dipakai dalam pembelajaran keterampilan bercerita kurang efektif; dan (7) penggunaan media pembelajaran yang kurang menarik bagi siswa. Menjadi pertanyaan besar bagi peneliti, mengapa rendahnya keterampilan bercerita dapat terjadi, faktor apakah yang menyebabkan hal itu terjadi, dan bagaimana pemecahannya? Berikut ini identifikasi masalah secara jelas mengenai masalah tersebut.
Pertama, siswa kurang berani bercerita di depan umum. Hal ini karena siswa menganggap bahwa berbicara khususnya bercerita di depan umum merupakan hal yang menakutkan, sehingga siswa kurang terampil bercerita di depan umum. Oleh karena itu, guru harus memberikan motivasi kepada siswa dengan memberikan pengetahuan dan teknik bercerita di depan umum agar siswa lebih berani bercerita di depan umum.
Kedua, siswa merasa takut, malu-malu dan kurang percaya diri bila ditunjuk untuk bercerita di depan kelas. Masalah ini terjadi karena siswa kurang berlatih bercerita. Saat guru menunjuk siswa untuk bercerita di depan teman-temannya mereka merasa enggan, sehingga guru harus menunggu sampai dia mau maju ke depan. Oleh karena itu, guru harus memotivasi dan memberi kesempatan kepada siswa untuk berlatih bercerita, baik di kelas maupun di rumah.
Ketiga, kata-kata yang digunakan siswa saat bercerita kurang menarik. Siswa kesulitan dalam memilih kata-kata yang menarik saat bercerita. Hal ini terjadi karena mereka kurang terbiasa bercerita menggunakan bahasa Indonesia. Mereka terbiasa menggunakan bahasa Jawa saat bercerita kepada temannya. Oleh karena itu, siswa harus dibiasakan untuk berkomunikasi, khususnya bercerita dengan menggunakan bahasa Indonesia, sehingga mereka terbiasa menggunakan dan mampu memilih kata- kata yang menarik saat bercerita dengan bahasa Indonesia.
Keempat, siswa tidak menguasai bahan yang akan diceritakan. Masalah ini terjadi karena selama ini hal-hal yang diceritakan oleh siswa adalah hal-hal yang belum diketahui oleh siswa atau kurang dikuasai siswa. Oleh karena itu, guru harus memberi kesempatan kepada siswa untuk memahami bahan cerita yaitu dengan memberikan waktu di luar jam pelajaran kepada siswa untuk mencari bahan cerita dan memahaminya.
Kelima, guru membatasi topik pembicaraan. Selama ini, guru seringkali membatasi siswa untuk bercerita dengan topik tertentu, misalnya sesuai dengan tema atau materi saat itu, walaupun tidak sesuai dengan minat siswa. Hasilnya pembelajaran yang berlangsung kurang optimal, karena kurang memberi kebebasan kepada siswa untuk mengungkapkan dan mengekspresikan gagasannya. Salah satu cara yang dapat dilakukan guru untuk mengatasi masalah tersebut yaitu dengan memberi kebebasan pada siswa untuk bercerita sesuai dengan minatnya.
Keenam, teknik yang dipakai dalam pembelajaran kurang efektif. Selama ini teknik-teknik pembelajaran yang dipakai adalah teknik-teknik lama yang kurang membuat siswa tertarik terhadap pembelajaran. Dalam prosesnya siswa dituntut satu persatu ke depan kelas secara individu untuk bercerita, sehingga siswa merasa grogi, takut, dan malu terhadap teman-teman sekelasnya. Salah satu cara untuk mengatasinya yaitu dengan memperbaiki teknik pembelajaran. Guru hendaknya membuat kelompok-kelompok kecil agar siswa dapat mendiskusikan terlebih dahulu mengenai cerita yang akan mereka sajikan di dalam kelas yang memungkinkan siswa dapat bercerita dengan nyaman dan berani tanpa rasa takut, malu dan grogi. Dalam penelitian tentang kompetensi bercerita menggunakan alat peraga, peneliti menggunakan media boneka, di mana siswa dalam kelompoknya masing-masing membuat cerita dengan topik yang mereka imajinasikan berdasarkan kesepakatan kelompok, yang sebelumnya kata-kata yang akan mereka tampilkan sudah dirancang/ditulis terlebih dahulu sebelum mereka pertunjukkan di depan kelas.
Ketujuh, penggunaan media pembelajaran yang kurang menarik bagi siswa. Media pembelajaran berfungsi untuk menunjang proses pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik. Penggunaan media yang tidak sesuai dengan minat siswa akan menghambat proses pembelajaran, yang pada akhirnya hasil pembelajaran yang dicapai tidak optimal. Permasalahan ini dapat diatasi dengan memilih media pembelajaran yang sesuai dengan minat siswa. Dengan demikian, siswa akan tertarik dengan media tersebut dan akan semangat dalam bercerita. Dalam hal ini, peneliti menggunakan media boneka untuk menarik perhatian dan minat siswa. Media boneka juga berfungsi untuk membantu siswa memperoleh kemudahan ketika bercerita, karena dengan bantuan boneka sebagai alat peraga akan membangkitkan ide-ide siswa yang tertuang dalam sebuah cerita yang akan mereka ceritakan di depan kelas.

Berdasarkan permasalahan di atas, peneliti bermaksud untuk melakukan perbaikan dalam pembelajaran keterampilan berbicara dalam kompetensi bercerita dengan alat peraga melalui penelitian tindakan kelas pada siswa kelas VII-G di SMP Negeri 4 Pemalang dengan menggunakan media boneka.

Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini
Dipublikasi di Pendidikan Seni | Meninggalkan komentar

Peningkatan Kreativitas Siswa Melalui Permainan Cipta Lagu Dalam Pembelajaran Seni Budaya Di Smp Nasima Semarang (PS-2)

BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Pembelajaran seni budaya mengembangkan semua bentuk aktifitas cita rasa keindahan yang meliputi kegiatan berekspresi, bereksplorasi, berkreasi dan apresiasi dalam bahasa, rupa, bunyi, gerak, tutur dan peran. Sedangkan tujuan pendidikan seni untuk mengembangkan sikap toleransi, demokratis, beradab, dan hidup rukun dalam masyarakat yang majemuk, mengembangkan ketrampilan dan menerapkan teknologi dalam berkarya dan menampilkan karya seni rupa, seni musik, tari dan peran, dan menanamkan pemahaman tentang dasar-dasar dalam berkesenian (Sujadmiko,2004:26 )

Seiring dengan program KTSP ( Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ) yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah dan mendorong sekolah untuk melakukan pengambilan keputusan secara bersama untuk memenuhi kebutuhan sekolah dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan berdasarkan kebijakan pendidikan nasional (Raharjo,
2003:5). Berkaitan dengan KTSP tersebut sekolah perlu mencari program- program yang sesuai di lembaganya, dan guru punya wewenang yang penuh untuk pengembangan dirinya termasuk SDMnya.
Tujuan akhir dalam proses pembelajaran seni budaya khususnya musik adalah mampu berapresiasi terhadap seni , mampu berekspresi dan berkreasi. Banyak manfaat yang diperoleh jika siswa mampu berkreasi , dan berekspresi yaitu kreativitas siswa akan semakin berkembang, nilai estetika akan bertambah dan kematangan bersikap khususnya dalam melestarikan seni budaya.
Menurut Edgar Dale metode yang menarik untuk siswa adalah pengalaman langsung ( Cone of experience ). Pengalaman belajar dalam ruangan (indoor) maupun di luar ruangan (outdoor) dan tidak meninggalkan karakteristik mata pelajaran ( Sukarman, 2003:16) . Maka berdasarkan pernyataan tersebut, upaya mengemas proses pembelajaran yang mengajak siswa untuk berinteraksi aktif dalam mata pelajaran seni budaya khususnya musik, menjadi tantangan bagi kalangan pendidik , khususnya guru musik itu sendiri.
Model pembelajaran yang inovative tentu tidak mengesampingkan trend pada masa tertentu , karena dimensi apresiasi seni anak cenderung berubah menurut usianya ( Mack, 2002:64 ). Semakin guru bisa memahami trend musik anak, perhatian dan motivasi anak juga semakin bertambah. Walaupun ini bukan utama, namun bisa menjadi daya tarik tersendiri disamping meletakkan dasar – dasar musik.
Menurut Toeti Heraty kreativitas adalah suatu fungsi biologis manusia yang berbeda dengan mahkluk-mahkluk lain seperti hewan, kreativitas didefinisikan sebagai retrukturasi kreatif, kemampuan seseorang mengatasi masalah atau tatanan lama dan menggantinya dengan tatanan baru (Martopo , 2006 : 216)

Model pembelajaran ” dengar-lihat-kerjakan” lebih berpusat pada guru atau teacher centered . Model yang berkaitan dengan kreativitas, inovasi pembelajaran, perlu ditekankan model pembelajaran yang berpusat pada siswa.
Menurut Bruce Joyce dan Masha Weil dalam bukunya Models of Teaching (Masunah, 2002:3) mengemukakan empat rumpun model mengajar yakni,
(1). Information procesing model yang berorientasi pada pengembangan kemampuan peserta didik dalam mengolah dan menguasai informasi yang diterima mereka dengan menitik beratkan pada aspek intelektual akademis. (2). Personal models yang berorientasi pada pengembangan diri baik secara individu maupun hubunganya dengan lingkungan . Menitik beratkan aspek emosional.
(3). Social interaction models berorientasi pada pengembangan peserta didik dalam bekerja sama dengan orang lain, berperan aktif dalam proses demokratis dan bekerja dengan produktif di dalam masyarakat dengan menitik beratkan pada kehidupan sosial.
(4). Behaviorial models yang berorientasi pada kemampuan menguasai fakta, konsep, ketrampilan, dan kemampuan mengurangi kecemasan serta meningkatkan ketenangan dengan menitikberatkan pada aspek perbuatan perilaku yang dapat diamati.
Untuk pelajaran seni nampaknya tidak hanya dengan satu model pembelajaran, tapi dengan menggabungkan beberapa model, karena seni berkaitan dengan keadaan personal, hubungan sosial, dan budaya yang mesti dikembangkan dalam diri siswa. Pembelajaran seni budaya lebih ditekankan pada praktek, seperti yang tertuang dalam bahan kajian seni musik yaitu mampu mengekspresikan diri dan berkreasi melalui penampilan dan pergelaran musik nusantara dan manca negara secara vokal maupun instrumental.
Maka upaya mencari metode pembelajaran yang baik adalah salah satu usaha untuk mencapai tujuan. Menurut (Sudjana,1989) dalam (Candra,2006:61) metode mengajar adalah cara yang digunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pembelajaran.
Menyimak kurikulum 2006 pada standart kompetensi kelas VII, VIII, IX, terdapat materi berkreasi seni. Pada kompetensi dasar disebutkan peserta didik mampu mengaransir / merancang karya musik sederhana non tradisi daerah setempat. Dari kompetensi dasar tersebut peserta didik dituntut untuk bisa berkarya seni walaupun masih sederhana. Tentu untuk mewujudkan itu semua seorang guru harus belajar bagaimana menciptakan karya musik. Padahal untuk menciptakan sesuatu yang baru atau lagu yang baru adalah pekerjaan tidak mudah. Maka perlu dibangun strategi, metode belajar yang menarik agar peserta didik mampu berkarya seni atau mampu menciptakan lagu baru baik secara klasikal, kelompok dan individu.
Menurut beberapa literatur antara lain (Uqshari, Melejit DenganKreatif : 2005) , (Sugiyanto, Kesenian , 2004 ), (internet, Cipta Lagu, 2007)dan pengalaman penulis ada beberapa cara untuk menciptakan karya cipta lagu yaitu ;
(1). Konsentrasi.
Sebuah lagu yang baik adalah sebuah lagu yang mampu mengembangkan daya imajinasi, daya berpikir dan dapat menyalurkan emosi serta kemampuan aspek sosial (internet “ AT. Mahmud” Tokoh Indonesia,16 Juni 2007,http: // http://www.tokoh indonesia.com).
Setiap hari diperdengarkan musik hingga masuk alam bawah sadar, kemudian dalam masa belajar nada-nada itu tersimpan, ketika proses kreatif muncul ide-ide yang lama tersimpan muncul semua ( internet,”
Dhani Dewa “,17 Juni 2007,http: // http://www.figurpublik.com).

Untuk bisa memahami imajinasi salah satunya dengan konsentrasi. Untuk memunculkan kembali ide juga dengan konsentrasi. Kalau diterapkan dalam pembelajaran di kelas, caranya adalah siswa membayangkan suatu obyek kemudian secara sadar diungkapkan dengan suara secara berulang- ulang demikian seterusnya sehingga menemukan melodi-melodi baru untuk menyusun lagu. Tapi dalam metode ini siswa akan kehilangan memori disaat konsentrasi dihentikan. Dan sulit sekali mencari lagu yang telah tersusun dalam konsentrasi imaginasi tadi.
Daya imajinasi mutlak diperlukan bagi seorang yang kreatif. Imajinasi pada umumnya diperlukan untuk suatu penggambaran ke depan
( Soenarno, 2006: 37).

(2). Membuat syair kemudian menulis notasi atau sebaliknya.

Menulis lagu harus benar-benar dalam keadaan tenang, setelah tahu irama lagu dan notasi baru mencari liriknya (Internet,“Melly”, figurpublik,16 Juni 2007,http:// http://www.figurpubik.com ).
Sebuah lagu dapat dibuat dengan menuliskan notasi terlebih dahulu . Tetapi akan lebih mudah jika kita mendahulukan pembuatan teks/syair (Sugiyanto,2004:135). Menurut pendapat diatas, dalam menulis lagu boleh ditulis notasi terlebih kemudian liriknya atau lirik dulu baru notasinya.
Dalam pembelajaran di kelas, siswa membuat syair beberapa bait kemudian menuliskan notasinya. Hal ini bisa dilakukan kalau siswa sudah punya dasar yang kuat tentang solfegio atau membaca notasi musik. Padahal rata-rata siswa SMP belum bisa membaca not angka maupun not balok, karena pada waktu di sekolah dasar rata – rata belum diberi pelajaran tentang membaca not angka maupun not balok.
(3). Recording

Pada era modern dimana teknologi semakin memasyarakat, di manapun, kapanpun seseorang dapat menuangkan ide lagu baru dengan direkam terlebih dahulu, kemudian hasil rekaman itu disusun kembali hingga terbentuklah lagu baru. Kendala yang dihadapi adalah tidak setiap waktu dan kesempatan membawa alat rekam, Padahal ide, inspirasi itu bisa datang setiap saat tanpa mengenal tempat dan waktu.

(4). Ilham

Seorang composser (pencipta lagu) tidak menghendaki lagu itu hadir, tapi nada-nada terus datang dalam wilayah imaginasinya sehingga terciptalah sebuah karya. Kendala yang dihadapi adalah tidak semua orang punya talent yang demikian, apalagi siswa yang kemampuan dasar musikalnya masih dalam tahap belajar. Menurut (M.Echols ,1992:324) ilham adalah inspiration, tiba-tiba mendapatkan sesuatu untuk melakukan sesuatu menurut bisik-bisik hatinya.
Pembelajaran seni budaya didalamnya terdapat materi seni musik yang merupakan bagian dari pendidikan yang diajarkan di SMP Nasima. Seni musik merupakan pelajaran yang menarik siswa, terbukti dengan keseriusan lembaga tersebut mengelola karya musik dalam sebuah album musik . Sampai saat ini SMP Nasima sudah memilki 3 album musik yang berisi ekspresi siswa dan guru – guru di SMP Nasima.
Tidak hanya itu, prestasi musik dan vokal juga menonjol diantaranya yaitu pada tahun 2004 juara 2 lomba vokal se kota Semarang yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Kota Semarang atas nama Lavenia Disa Winona, pada tahun 2005 juara 1 lomba band pelajar tingkat kota Semarang di Sri Ratu Peterongan dan pada tahun 2007 juara 2 lomba band sekota semarang yang diadakan SMA Sultan Agung 1 Semarang. Pada kegiatan lomba tersebut sekaligus meraih the best vokal atas nama Kartika Dewi dan the best gitar atas nama Imam Agung.

Dari berbagai prestasi yang diraih oleh siswa-siswi SMP Nasima Semarang, menjadi perhatian YPIN (Yayasan Pendidikan Islam Nasima) memberikan fasilitas yang memenuhi standart yaitu dibangunnya studio musik Nasima.
Berkaitan dari kondisi tersebut diatas, maka perlu ada upaya pengembangan yang terus menerus sehingga prestasi akademik dan non akademik dapat diraih / meningkat. Disamping perhatian, pembinaan yang kontinyu maka perlu kajian akademis yang akurat melalui penelitian dalam bentuk penulisan skripsi tentang pembelajaran seni budaya khususnya seni musik pada model permainan cipta lagu. Agar suatu saat nanti SMP Nasima memiliki album musik yang lagu-lagunya semua hasil karya siswa.
Salah satu faktor yang sering dianggap menurunkan motivasi siswa remaja untuk belajar adalah materi pelajaran itu sendiri dan guru yang menyampaikan pelajaran itu (Sarwono, 2006:122). Menimbang dari berbagai alasan mengenai pembelajaran, maka inovasi pembelajaran merupakan hal penting untuk diterapkan dalam proses belajar mengajar.
Inovasi pembelajaran sangat diperlukan dalam rangka meningkatkan efisiensi, relevansi, kualitas dan efektivitas. Inovasi yang dilakukan diharapkan peserta didik menjadi manusia yang aktif, kreatif dan terampil memecahkan masalahnya sendiri (Yudrik, 2003:23). Inovasi yang dilakukan dalam pembelajaran seni budaya di SMP Nasima adalah selaras dengan learning by doing yaitu belajar sambil bermain.

Menurut (Santoso, 2002:147) kreativitas bagi anak-anak adalah suatu permainan. Sejak masih bayi, mereka telah mengembangkan berbagai macam permainan kreatif. Oleh karena itu metode pembelajaran dengan permainan adalah langkah awal menuju pencapaian kreativitas siswa.
Penerapan belajar sambil bermain tersebut terdapat pada pembelajaran seni budaya khususnya musik dalam KD peserta didik mampu mengapresiasi dan berkarya seni daerah setempat. Agar siswa dapat berkreasi karya seni diperlukan metode yang relevan dengan kondisi siswa. Salah satunya adalah permainan cipta lagu. Metode ini adalah upaya bersama membangun nada menjadi sebuah lagu baru. Terciptanya lagu baru dari proses pembelajaran di kelas merupakan bentuk kreativitas siswa.
Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini
Dipublikasi di Pendidikan Seni | Meninggalkan komentar

Contoh Skripsi Pendidikan Seni

Usia seni yang lebih kurang sama dengan keberadaan manusia di muka bumi ini. Seni telah menjadi bagian dari sejarah kehidupan budaya manusia di berbagai belahan bumi, dengan beraneka macam bentuk dan jenis. Sekalipun manusia telah akrab dengan seni, namun terkadang masih belum jelas tentang ‘apakah seni itu’.
Banyak orang yang telah membicarakan seni bari dari tokoh Barat ataupun tokoh dari Timur. Herbert Read menyatakan bahwa istilah ‘art’ pada umumnya dihubungkan dengan bagian seni yang biasa ditandai dengan istilah ‘plastic’ atau ‘visual’, tetapi semestinya di dalamnya termasuk pula seni sastra dan seni musik.

Terkadang sebagai mahasiswa, Anda bingung ketika akan mengerjakan tugas akhir atau skripsi, terutama ketika menentukan judul. Sehingga Anda perlu mencari inspirasi untuk judul sripsi yang akan Anda buat.

Buat teman-teman yang kebetulan lagi sibuk mikirin tentang pembuatan judul skripsi Pendidikan seni, lagi mencari contoh skripsi Pendidikan seni gratis. mudah-mudahan contoh skripsi ini dapat membantu anda dalam membuat Pendidikan seni yang anda jalani.

Berikut Contoh Skripsi Pendidikan seni Lengkap. Klik Judulnya untuk melihat isinya.


    var numposts = 1000; var standardstyling = true;

Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Dipublikasi di Pendidikan Seni | Meninggalkan komentar

Perbedaan Hasil Belajar Antara Pendekatan Kontekstual Dengan Konvensional Pada Sub Konsep Keanekaragaman Hewan Di Kelas Vii Smp Negeri I Sragen Tahun Ajaran 2005/2006 (PBIO-4)

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH
Pendidikan merupakan usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau latihan bagi peranannya di masa akan datang. Pendidikan dapat dipahami sebagai suatu proses pertumbuhan yang menyesuaikan dengan lingkungan dan suatu pembentukan kepribadian dan kemampuan anak dalam menuju ke arah kedewasaan. Proses pembelajaran di lingkungan sekolah (pendidikan formal) melibatkan berbagai komponen. Jika salah satu komponen tidak terpenuhi maka proses pembelajaran kurang berhasil. 

Dalam proses pembelajaran biologi melibatkan banyak unsur yang saling berikatan dan menentukan keberhasilan dalam proses belajar mengajar. Unsur-unsur tersebut adalah pendidik (guru), peserta didik (siswa), kurikulum, pengajaran, tes dan lingkungan. Guru dan siswa merupakan subjek pendidikan yang sangat menentukan dalam konteks pengembangan di sekolah. Sebaik apapun kurikulum, jika motivasi guru dan siswa kurang memadai maka proses pembelajaran seperti yang diharapkan tidak akan terjadi.

Pembelajaran yang dilaksanakan dapat diketahui hasilnya dengan diadakan evaluasi hasil belajar yang meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Evaluasi hasil belajar bertujuan mengetahui kemajuan-kemajuan dan kelemahan siswa, guru, proses belajar mengajar beserta sebab akibatnya, sehingga siswa dapat mengetahui langkah apa yang akan diambil untuk meningkatkan hasil belajarnya. Dalam proses belajar mengajar dapat digunakan banyak pendekatan pembelajaran. Agar diperoleh hasil yang optimal diperlukan pendekatan yang tepat untuk mengajarkan suatu pengetahuan atau materi sehingga hasilnya sesuai dengan yang diharapkan.
Pendekatan kontekstual merupakan salah satu pendekatan yang tepat untuk pelaksanaan Pembelajaran Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan sesuai untuk kurikulum 2004. Kompetensi berarti siswa mempunyai pengetahuan, mempunyai keterampilan, dan mempunyai nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. Untuk menjadikan siswa yang berkompeten diperlukan pembelajaran yang baik tidak hanya dengan pembelajaran konvensional. Pengajaran biologi kelas VII konsep keanekaragaman hewan bertujuan untuk menerapkan konsep dasar-dasar klasifikasi serta tujuan klasifikasi untuk mengelompokkan makhluk hidup. Pemahaman terhadap konsep keanekaragaman hewan menyangkut ciri-ciri umum vertebrata dan invertebrata, contoh-contoh, bagian-bagian tubuh, serta penggunaan kunci determinasi sederhana. Keanekaragaman hewan meliputi semua hewan vertebrata dan invertebrata terdapat dalam jumlah yang sangat besar dan menunjukkan keanekaragaman yang sangat besar pula. Diperlukan kegiatan klasifikasi yaitu kegiatan pengelompokan dan pemberian nama setiap kelompok yang terbentuk serta memerlukan pendekatan dan media pembelajaran yang sesuai untuk mempermudah mempelajarinya (Suroso,2003).

Pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengkaitkan materi yang diajarkan dengan lingkungan sekitar siswa dan mendorong siswa untuk menghubungkan antara pengetahuan yang mereka peroleh dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat. Dengan konsep ini diharapkan proses pembelajaran menjadi lebih bermakna karena berlangsung secara alamiah dalam bentuk kegiatan siswa yaitu mengalami atau mengamati sendiri, tidak hanya transfer pengetahuan dari guru ke siswa. (Anonim, 2002)
Berdasarkan hasil pengamatan pembelajaran di SMP Negeri 1 Sragen ini menunjukkan bahwa pembelajaran masih didominasi ceramah sehingga hasil belajar kurang sesuai dengan apa yang diharapkan, apalagi jika dikaitkan dengan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran. Hal ini dapat dilihat dari kegiatan belajar mengajar yang cenderung bersifat hafalan tanpa adanya pemahaman yang baik. Kebanyakan siswa mempunyai kemampuan mengahafalkan materi yang diterima dengan baik tetapi mereka kurang memahami secara lebih dalam apa yang mereka hafalkan. Sebagian besar siswa belum mampu menghubungkan materi yang dipelajari dengan pengetahuan secara abstrak (hanya membayangkan) tanpa mengalami atau melihat sendiri. Padahal siswa memerlukan konsep-konsep yang berhubungan dengan lingkungan sekitarnya karena pembelajaran tidak hanya berupa transfer pengetahuan tetapi sesuatu yang harus dipahami oleh siswa yang akan diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Belajar mereka akan lebih bermakna jika siswa mengalami sendiri apa yang dipelajari daripada hanya mengetahui secara lisan saja.

Berdasarkan nilai ulangan harian biologi yang pertama untuk kelas VII A sampai VII D di SMP N 1 Sragen mempunyai tingkat keaktifan dan hasil belajar masih dibawah standar yaitu 7,5 (untuk Sekolah Standar Nasional). Hal ini dapat dilihat pada nilai rata-rata ulangan harian sebesar 6,3 sampai 6,9. Hasil belajar ini menunjukkan bahwa tingkat pemahaman siswa masih perlu ditingkatkan. Proses pembelajaran Biologi yang dilakukan di SMP N 1 Sragen masih didominasi metode ceramah tanpa didukung pendekatan pembelajaran lain atau media pembelajaran yang bervariasi. Proses belajar mengajar yang menggunakan pendekatan kontekstual dengan dibantu media asli belum pernah dilakukan pada konsep keanekaragaman hewan, sehingga manfaat penggunaan pendekatan kontekstual terhadap peningkatan hasil belajar biologi belum pernah diketahui. 

Hasil belajar siswa yang rendah yaitu dibawah 7,5 (untuk Sekolah Standar Nasional) disebabkan berbagai faktor antara lain : untuk pokok bahasan Keanekaragaman Hewan materi terlalu banyak sehingga sulit dipahami karena terbatasnya media, guru kurang memotivasi siswa karena dalam KBM sebagian besar masih didominasi dengan ceramah sehingga pembelajaran kurang menarik, dalam pembelajaran dengan pendekatan konvensional menyebabkan siswa kurang dilibatkan secara aktif sehingga minat dan motivasi siswa juga kurang, dan pendekatan pembelajaran kurang tepat dan materi kurang mengkaitkan dengan kehidupan sehari-hari. 

Memadukan materi pelajaran dengan konteks keseharian siswa akan sangat berarti dalam proses pembelajaran. Pembelajaran kontekstual menciptakan kelas yang didalamnya siswa akan terlibat lebih aktif, dan bukan hanya sebagai pengamat yang pasif, sehingga proses belajar siswa akan dapat lebih optimal dan hasil belajar juga meningkat (Anonim, 2002). Penelitian ini difokuskan pada perbedaan hasil belajar antara pendekatan kontekstual dan
pendekatan konvensional pada sub konsep keanekaragaman hewan di kelas VII SMP N 1 Sragen.

Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini
Dipublikasi di Pendidikan Biologi | Meninggalkan komentar

Pengaruh Pemberian Tugas Setiap Akhir Pertemuan Terhadap Hasil Belajar Ipa Siswa Kelas V Pada SD Inpres Buttatianang I Makassar (PBIO-3)

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Konsep mengenai pendidikan yang dikembangkan saat ini, merupakan rangkaian upaya manusia Indonesia untuk meningkatkan sumber daya yang akhir-akhir ini santer diperbincangkan sehubungan dengan peningkatan sumber daya manusia pembangunan.
Pelaksanaan proses pendidikan dan pengajaran yang diterapkan di seluruh tanah air, sudah tentu tidak terlepas tuntutan zaman dan kebutuhan pendidikan yang cenderung melibatkan seluruh strata sistem kemasyarakatan dalam suatu proses interaksi dan komunikasi yang berimbang sebagai penjabaran operasional fungsi dan strategi bagi dunia pendidikan. Mulai dari jenjang pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi.

 

Rumusan mengenai sasaran yang ingin dicapai dalam pelaksanaan proses pendidikan dan pengajaran senantiasa mengacu pada tujuan pendidikan nasional yang telah dirumuskan berdasarkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang sistem pendidikan nasional serta telah ditetepkan dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara Republik Indonesia dengan ketetapan MPR Nomor II/ MPR/1993, bidang pendidikan bahwa “Pendidikan nasional bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, mandiri, maju, tangguh, cerdas kreatif, terampil, berdisiplin, beretos kerja, profesional, bertanggung jawab, dan produktif serta sehat jasmani dan rohani. Pendidikan nasional juga harus menumbuhkan jiwa patriotik dan mempertebal rasa cita tanah air, meningkatkan semangat kebangsaan dan kesetiakawanan sosial serta kesadaran pada sejarah bangsa dan sikap menghargai jasa para pahlawan, serta berorientasi masa depan”.
Untuk merealisasikan kerangka dasar pendidikan seperti yang telah dipaparkan di atas, tentunya diperlukan upaya maksimal dari berbagai pihak, dalam melihat tugas dan tanggung jawab pendidikan itu, tanpa harus terikat dengan kondisi formal pendidikan semata.
Kiranya perlu dipahami bahwa indikator keberhasilan suatu proses pendidikan dan pengajaran tentunya tidak hanya terbatas pada sederetan angka-angka prestasi belajar, akan tetapi harus terkait dengan kemampuan seseorang anak didik merefleksikan program belajarnya dalam bentuk aplikasi sikap positif melalui serangkaian aktivitas yang selektif dan efektif. Dalam prestasi yang demikian itu, maka kita dapat memahami bahwa aspek nilai yang ditransfer dalam dunia pendidikan dan pengajaran harus selalu terkait dengan unsur pengetahuan, sikap dan keterampilan yang diproyeksikan melalui kurikulum dan silabus pengajaran, untuk selanjutnya dioperasionalisasikan melalui kegiatan pengajaran. Diukur dengan menggunakan instrumen test yang tepat.
Kenyataan empiris proses pendidikan dan pengajaran yang dikembangkan berbagai lembaga pendidikan menunjukkan bahwa penerapan pola pendidikan dan pengajaran yang tepat, tampaknya masih kurang mendapat perhatian yang memadai dari tenaga pengajar. Sehingga proses pengajaran cenderung tidak relevan dengan pola pendekatan atau metode pengajaran yang digunakan. Hal ini menyebabkan sisi kualitas pengajaran yang diharapkan kurang terpenuhi. Oleh karena itu diperlukan upaya untuk melihat efektivitas suatu pendekatan dan metode pengajaran proses belajar mengajar yang dilakukan dapat berhasil guna dan memudahkan bagi siswa dalam memahami suatu disiplin ilmu atau mata pelajaran diterimanya.
Berdasarkan dari pemikiran di atas, penulis dengan segenap kemampuan untuk mencoba melakukan suatu penelitian sekitar penggunaan metode pemberian tugas dalam pengajaran IPA yang oleh penulis diduga meningkatkan hasil belajar siswa.
Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini
Dipublikasi di Pendidikan Biologi | Meninggalkan komentar

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN IQRO’ GUNA MENINGKATKAN KETERCAPAIAN KECAKAPAN HIDUP SISWA PADA PEMBELAJARAN PRINSIP-PRINSIP KLASIFIKASI, VIRUS, ..(PBIO-2)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perubahan yang sangat pesat terjadi dalam berbagai bidang seperti politik, sosial, budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi. Ini merupakan ciri/karakter dari dinamika di abad 21 yang merupakan abad informasi. Seiring dengan perubahan tersebut, lembaga pendidikan memiliki peranan penting dalam membantu mempersiapkan peserta didik agar mampu hidup secara produktif di tengah masyarakat dengan berbagai permasalahan yang dihadapinya.


Salah satu cara untuk mengantisipasi perubahan yang pesat tersebut, maka pendidikan yang hanya menekankan pada penanaman konsep (produk) menjadi tidak sesuai lagi. Selain penanaman konsep, pendidikan dewasa ini harus mampu mengembangkan kecakapan-kecakapan yang berguna untuk menghadapi permasalahan dalam kehidupan. Kecakapan ini sering disebut dengan Life Skills. Dalam kurikulum 2004 (Kurikulum Berbasis Kompetensi) telah diupayakan untuk mensinergikan berbagai mata pelajaran dengan kecakapan hidup (Life Skills) sebagai pengalaman belajar. Pengalaman belajar tersebut diharapkan mampu mengembangkan potensi yang dimiliki peserta didik, sehingga siap digunakan untuk memecahkan problema kehidupan yang dihadapinya.

Berdasarkan hasil wawancara dengan guru MA Al Asror Semarang didapatkan bahwa rata-rata nilai harian siswa kelas X pada materi virus dan
monera masih rendah. Nilai harian siswa pada tahun 2003/2004 dan tahun
2004/2005 secara klasikal <6,5. Dari hasil wawancara juga diketahui bahwa aktivitas siswa rendah dan siswa cenderung pasif. Hal ini dimungkinkan karena metode pembelajarannya cenderung teoritik yaitu guru masih menggunakan metode ceramah. Jadi dalam proses pembelajaran masih banyak didominasi oleh guru.
Model pembelajaran iqro’ adalah suatu model pembelajaran yang lebih menitikberatkan pada aktivitas siswa dan guru hanya bertindak sebagai fasilitator.

Model pembelajaran iqro’ mempunyai tiga sintaks yaitu eksplorasi, konseptualisasi, dan komunikasi. Dengan model pembelajaran iqro’ siswa diajak untuk aktif mengeksploitasi lingkungan disekitar siswa, baik lingkungan alam, sosial, budaya, agama dan sebagainya. Dengan memanfaatkan lingkungan atau alam sekitar diharapkan pembelajaran biologi akan lebih menyenangkan dan lebih mudah untuk dipahami sehingga siswa dapat mencapai hasil yang lebih baik, siswa juga dapat mempelajari berbagai konsep dan cara mengkaitkannya dengan kehidupan nyata, sehingga hasil belajarnya lebih berdaya guna bagi kehidupannya.
Berdasarkan masalah-masalah yang ada dan segala sesuatu yang mendukung, penulis berkeinginan untuk menerapkan model pembelajaran iqro’ pada materi prinsip-prinsip klasifikasi, virus, dan monera. Dengan demikian diharapkan hasil belajar siswa lebih meningkat dan kecakapan hidup siswa dapat lebih ditingkatkan serta dalam kehidupan di masyarakat dapat mengaplikasikan kecakapan yang dimiliki untuk mengatasi masalah/problem yang dihadapi.


Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini
Dipublikasi di Pendidikan Biologi | Meninggalkan komentar

PENGARUH PEMBERIAN MERKURI KLORIDA TERHADAP STRUKTUR MIKROANATOMI HATI IKAN MAS (PBIO-1)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Masalah pencemaran lingkungan terutama masalah pencemaran air mendapat perhatian yang besar dari pemerintah, karena air merupakan salah satu unsur penting bagi makhluk hidup dan kehidupan. Sejalan dengan meningkatnya industrialisasi, konsentrasi unsur logam berat di dalam perairan juga meningkat, sehingga memungkinkan tercapainya tingkat konsentrasi toksik bagi kehidupan akuatik.


Salah satu logam berat yang terus meningkat konsentrasinya adalah merkuri. Kandungan merkuri di badan air Kali Surabaya, telah mencapai seratus kali lipat dari Baku mutu yang ditetapkan Pemerintah yaitu 0,001 mg/l. Kajian ECOTON mendeteksi adanya peningkatan kandungan merkuri pada tahun 2001 sebesar 0,0011 – 0,0049 mg/l, meningkat pada tahun 2002 menjadi 0,004 – 0,089 mg/l (Anonim, 2004c). Pencemaran merkuri juga terjadi di perairan umum Cakung Dalam, Jakarta Utara. Tahun 2003 kadar merkuri meningkat dari 0,0012 ppm menjadi 0,0079 ppm dan telah melebihi Baku mutu Hg air Golongan C sehingga kurang layak dimanfaatkan untuk perikanan (Anonim, 2003).


Dalam keseharian, pemakaian merkuri telah berkembang sangat luas. Merkuri digunakan dalam bermacam-macam perindustrian, untuk peralatan- peralatan elektris digunakan untuk alat-alat ukur dalam dunia pertanian dan keperluan yang lainnya. Demikian luasnya pemakaian merkuri mengakibatkan semakin mudah pula organisme mengalami keracunan merkuri.
 

Merkuri telah dikenal sejak zaman Mesir kuno dan Romawi pada awalnya digunakan sebagai bahan pemisah emas dari batuan lain dalam proses pengolahan tambang. Merkuri telah digunakan untuk menambang emas selama berabad-abad karena racun tersebut harganya murah, mudah digunakan, dan relatif efisien. Namun dampak yang ditimbulkannya juga dapat dirasakan sampai berabad-abad kemudian. Merkuri merupakan suatu toksin yang bersifat kuat dapat merusak bayi dalam kandungan, sistem saraf pusat manusia, organ-organ reproduksi dan sistem kekebalan tubuh. Insiden besar yang diakibatkan oleh pencemaran mercuri terjadi di teluk minimata, jepang .

Diperkirakan 1.800 orang meninggal dunia karena memakan hasil laut dari perairan lokal yang tercemar merkuri (Arie, 2006). Ancaman kematian akibat bahan beracun itu semakin luas karena penggunaannya yang kini beragam. Merkuri juga digunakan untuk thermometer, bahan penambal gigi, juga baterai (Yun, 2004).
 
Pada industri manufaktur Vinilkhlorida di Jepang, merkuri digunakan sebagai katalis. Pemakaian merkuri pada industri tersebut telah mengakibatkan terjadinya pencemaran merkuri pada bidang perairan Teluk Minamata. Pada tahun
1960, untuk pertama kalinya dunia dihebohkan oleh suatu jenis penyakit kerapuhan pada tulang. Melalui pengujian-pengujian yang dilakukan, diketahui bahwa penyakit tersebut berawal dari keracunan logam berat merkuri yang masuk melalui ikan-ikan yang ditangkap di Perairan Teluk Minamata untuk dikonsumsi (Palar, 1994).

Gejala pencemaran merkuri juga mengintai Surabaya. Meurut Amsyari (2004), penelitian yang dilakukan tahun 2003 yang lalu menunjukkan kadar merkuri, arsen, cadmium, timbal dan tembaga di perairan sudah di atas ambang batas. Bahkan kandungan bahan kimia berbahaya ini juga terdapat pada ASI, rambut dan darah di tubuh masyarakat yang tinggal di pesisir. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa perairan di muara sungai Surabaya, tepatnya di Kenjeran telah tercemar. Kondisi ini juga berimbas pada kehidupan nelayan yang hasil tangkapan ikan di perairan Kenjeran terus menurun.

Terdapatnya mekuri di perairan dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu pertama oleh kegiatan perindustrian seperti pabrik cat, kertas, peralatan listrik, klorin dan soda kaustik. Penyebab yang kedua oleh alam yaitu melalui proses pelapukan dan peletusan gunung berapi. Pencemaran merkuri yang disebabkan kegiatan alam pengaruhnya terhadap biologi maupun ekologi tidak menimbulkan efek-efek yang merugikan, karena masih dapat ditolelir oleh alam itu sendiri (Budiono, 2003).

Merkuri masuk ke dalam jaringan tubuh makhluk hidup melalui beberapa jalan, yaitu saluran pernapasan, pencernaan dan penetrasi melalui kulit. Merkuri yang masuk dalam tubuh organisme air tidak dapat dicerna, dan merkuri dapat larut dalam lemak. Logam yang larut dalam lemak mampu untuk melakukan penetrasi pada membran sel, sehingga akhirnya ion-ion logam merkuri akan menumpuk (terakumulasi) di dalam sel dan organ-organ lain. Akumulasi tertinggi biasanya dalam organ detoksikasi (hati) dan organ ekskresi (ginjal) (Palar, 1994).

Rand (1980) dalam Muhammad (2002), mengatakan bahwa salah satu jenis hewan yang direkomendasikan oleh EPA (Environmental Protection Agency) sebagai hewan uji adalah Cyprinus carpio L., karena ikan tersebut memenuhi persyaratan yaitu penyebarannya cukup luas, mempunyai nilai ekonomi yang menonjol, mudah dipelihara di laboratorium. Ikan pada umumnya mempunyai kemampuan menghindarkan diri dari pengaruh pencemaran air. Namun demikian, pada ikan yang hidup dalam habitat yang terbatas (seperti sungai, danau, dan teluk), ikan sulit melarikan diri dari pengaruh pencemaran tersebut. Akibatnya, unsur-unsur pencemaran logam berat masuk ke dalam tubuh ikan.

Hati merupakan organ terbesar dalam tubuh yang terletak pada bagian sirip dalam rongga peritoneal dan melingkupi viscera. Bentuk hati seperti huruf U dan berwarna merah kecoklatan (Anonim, 2004a). Hati merupakan organ yang sangat rentan terhadap pengaruh zat kimia dan menjadi organ sasaran utama dari efek racun zat kimia (toksikan).

Hal ini disebabkan sebagian besar toksikan yang masuk ke dalam tubuh setelah diserap sel epitel usus halus akan dibawa ke hati oleh vena porta hati. Karena itulah organ hati sangat rentan terhadap pengaruh berbagai zat kimia dan merupakan organ tubuh yang sering mengalami kerusakan (Lu, 1995). Oleh sebab itu, penelitian mengenai kerusakan organ kritis khususnya hati ikan mas akibat Hg (merkuri) sangat penting untuk mengetahui sejauh mana kerusakan yang ditimbulkannya sebagai upaya mengkaji berbahayanya logam berat, dalam hal ini merkuri klorida terhadap kehidupan organisme perairan.


Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini
Dipublikasi di Pendidikan, Pendidikan Biologi | Meninggalkan komentar

Contoh Skripsi Pendidikan Biologi

Biologi atau ilmu hayat adalah ilmu yang mempelajari aspek fisik kehidupan. Istilah “biologi” dipinjam dari bahasa Belanda, biologie, yang juga diturunkan dari gabungan kata bahasa Yunani, βίος, bios (“hidup”) dan λόγος,logos (“lambang”, “ilmu”). Istilah “ilmu hayat” dipinjam dari bahasa Arab, juga berarti “ilmu kehidupan”. Obyek kajian biologi pada masa kini sangat luas dan mencakup semua makhluk hidup dalam berbagai aspek kehidupannya.
Berbagai cabang biologi mengkhususkan diri pada setiap kelompok organisme, seperti botani (ilmu tentang tumbuhan), zoologi (ilmu tentang hewan), dan mikrobiologi (ilmu tentang jasad renik). Perbedaan-perbedaan dan pengelompokan berdasarkan ciri-ciri fisik kelompok organisme dipelajari dalam sistematika, yang di dalamnya mencakup pula taksonomi dan paleobiologi.
Berbagai aspek kehidupan dikaji pula dalam biologi. Ciri-ciri fisik bagian tubuh dipelajari dalam anatomi dan morfologi, sementara fungsinya dipelajari dalam fisiologi. Perilaku hewan dipelajari dalam etologi. Perkembangan ciri fisik makhluk hidup dalam kurun waktu panjang dipelajari dalam evolusi, sedangkan pertumbuhan dan perkembangan dalam siklus kehidupan dipelajari dalam biologi perkembangan. Interaksi antar sesama makhluk dan dengan alam sekitar mereka dipelajari dalam ekologi; Mekanisme pewarisan sifat—yang berguna dalam upaya menjaga kelangsungan hidup suatu jenis makhluk hidup—dipelajari dalam genetika.
Terkadang sebagai mahasiswa, Anda bingung ketika akan mengerjakan tugas akhir atau skripsi, terutama ketika menentukan judul. Sehingga Anda perlu mencari inspirasi untuk judul sripsi yang akan Anda buat.
Buat teman-teman yang kebetulan lagi sibuk mikirin tentang pembuatan judul skripsi Pendidikan Biologi, lagi mencari contoh skripsi Pendidikan Biologi gratis. mudah-mudahan contoh skripsi ini dapat membantu anda dalam membuat  Pendidikan Biologi  yang anda jalani.
Berikut Contoh Skripsi Pendidikan Biologi Lengkap. Klik Judulnya untuk melihat isinya. 
    var numposts = 1000; var standardstyling = true;



Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini
Dipublikasi di Pendidikan Biologi | Meninggalkan komentar